Tidak mau ikutan aplikasi buatan luar negeri, aplikasi Catfiz mengedepankan budaya ramah ala Indonesia


Diantara banyaknya aplikasi chatting buatan lokal yang tumbang, seperti Live Profile, Chaton, dan Ping Chat karena kurangnya peminat, aplikasi buatan developer asal Surabaya, PT Dunia Catfish Kreatif Media, Catfiz telah meraup banyak minat pengguna dan tetap aktif hingga saat ini. Mengapa demikian? Simak hasil perbincangan Tech In Asia dengan Mochammad Arfan Direktur Utama Catfiz ini:

Nama Catfiz sendiri dipilih karena beberapa alasan. Lafal ‘Catfiz’ memang identik dengan Catfish yang berarti ikan lele dalam bahasa Inggris, juga merupakan ikan favorit Arfan dan mengandung filosofi untuk aplikasi ini. Lele, ujar Arfan, adalah binatang yang gampang dikembangbiakkan serta mudah beradaptasi di semua tempat di Indonesia dan ia bersama tim berharap dapat mengembangkan aplikasi ini dengan mudah.

Tren BBM pernah sangat merajai masyarakat Indonesia di tahun 2010 dengan selalu bertukar pesan di aplikasi ini dimanapun. Berawal dari hal tersebut, Mochammad Arfan bersama rekannya menciptakan aplikasi pesan Catfiz. Motivasi menciptakan aplikasi ini juga berawal dari pengamatan pada kondisi sekitar yang dapat menjadi pasar yang potensial karena banyaknya masyarakat yang tertarik dengan kebiasan baru bertukar pesan melalui smartphone.

Karena itu Catfiz tidak terlalu menggebu untuk menelurkan aplikasi pesan serupa secara terburu-buru, sehingga Arfan memilih untuk melakukan riset mendalam terlebih dahulu. Riset yang dilaksanakan berupa tingkah laku para penggila aplikasi pesan tersebut dan menganalisis pola aplikasi yang banyak digunakan di Indonesia. Arfan sangat optimis dalam aplikasi buatannya ini dan serius untuk terus mengamati perkembangan.

“Hasilnya saya dan tim memprediksi bahwa perangkat Android akan sangat maju dalam beberapa tahun mendatang, dan terbukti kini penggunanya meroket drastis. Sehingga aplikasi Catfiz ditujukan untuk pengguna Android, yang memang memiliki pasar yang sangat besar,” ucapnya.


Akhirnya tindakan pertama yang dieksekusi dalam uji coba aplikasi Catfiz adalah mengundang beberapa teman-teman dekatnya untuk mencoba aplikasi dalam versi alfa. Dalam beberapa hari ia terkejut karena langsung mendapat 60.000 download pengguna, menariknya lagi, dalam seminggu aplikasi ini beredar melalui forum lokal, telah terdapat 250.000 pengguna. Angka tersebut bukan hanya datang dari pengguna lokal di Indonesia, namun juga dari Timur Tengah dan dunia belahan selatan, seperti Meksiko, Venezuela, dan negara-negara lainnya. Sehingga ada tiga bahasa yang terdapat di Catfiz, yakni bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab.

Saat ini Catfiz mengklaim memiliki lebih dari 6,5 juta pelanggan dengan 3,5 juta pengguna aktif, dengan proporsi 50:50 antara pengguna asal Indonesia dan pengguna di luar negeri. Kemungkinan alasan mengapa banyak orang yang tertarik menggunakannya karena di saat itu belum banyak pesaing dalam messenger seperti Line, KakaoTalk, WeChat dan BeeTalk, baru terdapat BBM dan Whatsap yang memang menarik minat penggunanya.

Setelah disempurnakan, Catfiz memiliki fitur Pesan, Comment, Status, Voice and Video Messages, Promote Friend, Gallery Media Sharing, File Sharing besar hingga 250MB, dan juga aneka tema serta stiker yang menarik. Memang tidak nampak perbedaan dari sosial media lainnya dibandingkan dengan Catfiz, yang perlu diperhatikan hanya terdapat File Sharing dengan kapasitas besar dan grup chatting yang mampu menampung hingga ribuan orang.

Memegang teguh budaya Timur 

Setelah sukses mendulang download dari para pengguna, barulah Arfan memulai pengembangan aplikasi. Pada 10 November 2012 barulah ia memasang aplikasinya di Play Store milik Google dan Catfiz telah tersedia dalam full version. Pemilihan tanggal tersebut juga berdasarkan hari bersejarah di Surabaya sebagai tempat ia dan tim bermukim, 10 November dirayakan sebagai Hari Pahlawan yang menurutnya sangat menunjukkan nasionalisme dan kekuatan hebat dari para pahlawan. Tak hanya itu saja, pria lulusan ITS ini mengaku hanya mau menggunakan aplikasi yang ia suka saja. Ia menambahkan:

Banyak aplikasi chatting buatan luar negeri yang tidak mengedepankan unsur budaya Indonesia yang sangat ramah tamah. Contohnya WhatsApp, bila orang lain memiliki nomor telepon saya, maka otomatis saya akan ditambahkan menjadi temannya tanpa izin, saya sangat tidak menyukai cara tidak sopan seperti itu. Sehingga di smartphone yang saya miliki tidak terdapat sosial media apapun, selain Facebook dan Friendster yang juga jarang ia gunakan. 

Lebih lanjut, ketidaksukaannya terhadap aplikasi buatan luar negeri diterapkan pada sistem yang ada di Catfiz yang disebutnya sebagai aplikasi lokal yang menyediakan messaging dan sosial media. Setelah mendownload dan melakukan registrasi, pengguna memiliki NIC (seperti PIN dalam BBM untuk menjadi teman) yang terdiri dari 10 digit unik, tanpa membutuhkan nomor telepon pengguna. Setelah itu dapat merubah status atau melihat status teman secara langsung.

Untuk mendapatkan teman memang tidak bisa langsung dilakukan pencarian di aplikasi ini, karena harus berdasarkan kedekatan kekerabatan agar si pemilik NIC hanya memiliki teman yang benar-benar dekat dengan kehidupannya.

Karena keunikan ini, telah ada lebih dari 70 komunitas dari seluruh Indonesia dengan total member lebih dari 2 juta yang selalu aktif mengadakan kegiatan di daerahnya dan setia menggunakan aplikasi ini.

Mendapatkan keuntungan dari lima cara 


Dari awal melirik suburnya pengguna di platform Android sebagai bisnis yang dapat diseriusi Arfan dan timnya. Memang ia mendapat dana untuk Catfiz hanya dari teman dekatnya dan jumlahnya pun tidak terlalu banyak, karena ia menilai jumlah pengguna aktif belum sebesar harapannya untuk mendapatkan keuntungan lebih. Saat ini, ia memiliki lima langkah memonetisasi aplikasi ini meskipun pengguna dapat menikmati semua fitur yang ada secara gratis, berikut cara Arfan:

1. Adanya iklan 

Meski terdapat iklan, ia tetap mengedepankan unsur kesopanan, sehingga iklan hanya tampil di kolom News dan tidak bersifat pop-up yang mengganggu pengguna. Fitur ini juga masih dalam tahap uji coba dan terus disempurnakan.

2. Stiker 

Catfiz tidak memiliki variasi apapun pada saat awal peluncurannya, namun kepopulerannya dari forum ke forum membuat banyak anak muda memodifikasi segala unsur, termasuk tema dan stiker yang beraneka ragam. Stiker ini bersifat in-app purchasing sehingga pengguna masih dapat menikmati pilihan gratisnya.

3. Adanya pembayaran 

Seperti diketahui, Catfiz memiliki fitur Grup yang dapat menampung hingga ribuan orang, dari sinilah banyak yang menggunakannya sebagai lapak berjualan aneka barang. Nantinya, Arfan belum dapat menyebutkan kapan tanggal resminya, akan berlaku rekening bersama antar pengguna Catfiz dan pembayaran dapat dilakukan langsung melalui pengguna juga di laman khusus jual-beli.

4. Corporate Solution

Karena sifat aplikasi Catfiz yang tergolong private, Arfan berniat untuk melakukan penawaran ke berbagai perusahaan dan instansi yang membutuhkan aplikasi komunikasi tertutup bagi para karyawan. Bukan hanya memiliki kapasitas grup yang besar, Catfiz juga mampu mengirim film dalam ukuran besar hingga mencapai 250MB yang sangat mampu mengakomodir kebutuhan perusahaan.

5. Penambahan content 

Diakui Arfan, Catfiz telah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk menyediakan content tambahan di dalam aplikasi, seperti musik, komik, video, dan yang lainnya. Sehingga pengguna dapat menikmati kemudahan bertukar pesan sambil menikmati layanan entertainment yang terdapat di dalamnya. Bagaimana terkejutkah Anda dengan rancangan aplikasi chatting buatan lokal ini dan tertarik untuk mencobanya? Dapatkan aplikasinya melalui Play Store


Sumber : id.techinasia
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment